Ketika Teknologi Membuat Kita Semakin Malas Berkarya
Sebenarnya, apa yang membuat kita bingung di zaman yang serba canggih seperti sekarang?
Informasi yang dulu dianggap tabu, sulit ditemukan, bahkan mungkin hanya diketahui oleh orang-orang tertentu, sekarang bisa kita temukan dengan mudah. Internet telah membuat begitu banyak pengetahuan yang dulunya terasa seperti informasi rahasia menjadi terbuka untuk siapa saja.
Tetapi ada sesuatu yang justru membuat saya bertanya-tanya.
Kalau teknologi semakin maju dan informasi semakin mudah didapatkan, kenapa sebagian dari kita justru merasa semakin malas? Kenapa kemudahan yang seharusnya membantu kehidupan justru terkadang membuat kita kehilangan keinginan untuk berpikir dan berkarya?
Menurut saya, di sinilah persoalannya mulai menarik.
Teknologi membuka peluang, tetapi tidak semua orang siap menggunakannya
Kita bisa melihat banyak orang yang berhasil memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan taraf hidupnya. Ada yang membuat konten, membangun blog, membuat video, menjual produk digital, atau menggunakan berbagai platform untuk mendapatkan penghasilan.
Mereka membuktikan bahwa teknologi memang bisa menjadi alat yang sangat kuat.
Tetapi di sisi lain, ada juga banyak orang yang pesimis. Mereka melihat keberhasilan orang lain, tetapi merasa bahwa hal tersebut tidak mungkin dicapai oleh dirinya sendiri.
Bagi saya, kebingungan inilah yang menarik.
Teknologi memang semakin canggih, tetapi kecanggihan teknologi tidak otomatis membuat semua orang mampu memanfaatkannya dengan baik.
Bahkan terkadang teknologi justru membuat kita terlalu nyaman.
Ketika hampir semua pekerjaan bisa dilakukan mesin
Hampir semua produk teknologi saat ini dibuat untuk mempermudah pekerjaan manusia.
Kita bisa meminta perangkat lunak mengolah data, membuat gambar, menyusun tulisan, menerjemahkan bahasa, bahkan membuat konten secara otomatis.
Sekarang kita cukup memberikan perintah, kemudian mesin mengerjakan sebagian besar prosesnya.
Awalnya semua itu terlihat luar biasa.
Namun, semakin saya menggunakannya, semakin saya berpikir bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Apakah kemudahan ini justru perlahan membuat kreativitas manusia berkurang?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar teori bagi saya. Saya pernah mengalaminya sendiri.
Saya pernah membuat robot penulis konten dengan AI
Beberapa waktu lalu saya mencoba membuat sebuah robot yang dapat membantu menulis dan mempublikasikan konten secara otomatis.
Saya menggabungkan AI dengan sebuah sistem otomatisasi sehingga robot tersebut dapat menjalankan browser, mencari informasi, menyusun konten, dan mempublikasikannya sesuai jadwal yang sudah saya tentukan.
Konsepnya kurang lebih seperti kebiasaan saya ketika mengelola blog: membuka browser, mencari informasi, mengolahnya menjadi tulisan, kemudian mempublikasikannya.
Bedanya, pekerjaan tersebut saya coba serahkan kepada robot.
Bahkan sistem tersebut dapat berjalan tanpa harus bergantung pada API key tertentu karena robot dapat berinteraksi langsung dengan browser.
Pada awalnya saya merasa berhasil menemukan sesuatu yang menarik.
Bayangkan, pekerjaan yang biasanya membutuhkan waktu dan tenaga bisa dilakukan secara otomatis.
Tetapi setelah menggunakannya, saya justru menyadari ada sesuatu yang salah.
Lantas, kalau semuanya bisa dilakukan robot, saya sendiri sebenarnya sedang melakukan apa?
Ketika otomatisasi justru menghasilkan lebih banyak sampah
Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menghentikan robot tersebut.
Salah satu alasannya karena robot itu cukup membebani komputer saya. Tetapi alasan yang lebih penting adalah hasil yang dihasilkan.
Konten yang dibuat secara otomatis ternyata tidak memberikan nilai yang saya harapkan.
Ketika saya melihat kembali hasilnya, saya merasa bahwa sebagian besar konten tersebut pada dasarnya hanya mengulang informasi yang sudah ada di internet.
Saya memang bisa menghasilkan banyak artikel dalam waktu singkat, tetapi jumlah bukan berarti kualitas.
Kalau internet sudah dipenuhi informasi yang sama, kemudian saya membuat versi lain dari informasi tersebut hanya karena bisa dilakukan secara otomatis, apa sebenarnya nilai tambahnya?
Bagi saya, justru di sinilah masalahnya.
Konten seperti itu berpotensi hanya menambah kebisingan di internet. Bahkan ketika diterapkan pada blog, hasilnya tidak otomatis menghasilkan trafik yang signifikan.
Saya akhirnya menyadari bahwa kemampuan membuat konten dalam jumlah besar bukanlah tujuan utama.
Yang lebih penting adalah apa yang bisa kita berikan kepada pembaca yang tidak mereka dapatkan dari tempat lain.
Akhirnya AI saya jadikan asisten
Setelah pengalaman tersebut, saya mengubah cara menggunakan AI.
Saya tidak lagi melihat AI sebagai pengganti diri saya dalam membuat konten.
Saya lebih memilih menjadikannya sebagai asisten.
Salah satu bagian yang paling membantu bagi saya adalah proses editing.
Menulis ide dan pengalaman terkadang justru lebih cepat daripada mengedit tulisan tersebut agar menjadi lebih mudah dibaca. Memeriksa kalimat, memperbaiki struktur, mencari bagian yang membingungkan, dan memastikan tulisan tetap enak dibaca bisa menghabiskan cukup banyak waktu.
Di sinilah AI menurut saya sangat berguna.
Saya tetap menentukan pengalaman, sudut pandang, dan gagasan yang ingin disampaikan. AI membantu saya merapikan tulisan tersebut.
Dengan cara seperti ini, teknologi tetap membantu tanpa mengambil seluruh proses kreatif dari manusia.
Kalau AI bisa menjawab semuanya, untuk apa kita masih menulis?
Ini pertanyaan yang menurut saya semakin relevan.
Kalau AI bisa menjawab pertanyaan pengguna dengan cepat dan lengkap, mengapa seseorang masih harus bersusah payah menulis artikel?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa saya melihat perubahan besar dalam dunia blogging.
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa menulis blog sudah tidak menarik lagi karena AI dapat menghasilkan tulisan dalam hitungan detik.
Tetapi menurut saya, justru di sinilah tantangannya.
Blog yang hanya berisi informasi umum semakin sulit memiliki alasan untuk dikunjungi jika informasi yang sama bisa ditemukan di banyak tempat atau bahkan dirangkum langsung oleh mesin pencari dan AI.
Namun pengalaman pribadi, hasil pengujian, opini, dokumentasi, foto sendiri, kesalahan yang pernah terjadi, dan proses seseorang dalam menemukan solusi adalah sesuatu yang berbeda.
Hal-hal seperti itulah yang membuat sebuah tulisan memiliki identitas.
Blog tanpa trafik seperti berbicara di ruangan kosong
Bagi seorang blogger, trafik bukan hanya sekadar angka.
Trafik berarti ada orang yang membaca apa yang kita tulis.
Tanpa pembaca, sebuah blog bisa terasa seperti kita sedang berbicara sendirian di sebuah ruangan kosong.
Masalahnya, blog juga membutuhkan biaya.
Domain harus diperpanjang. Hosting atau server membutuhkan biaya. Komputer, koneksi internet, dan waktu yang digunakan untuk membuat konten juga merupakan bagian dari investasi.
Sementara itu, sebagian blog mengandalkan iklan sebagai sumber pendapatan.
Ketika trafik rendah, pendapatan iklan juga ikut rendah. Pada kondisi tertentu, penghasilan tersebut bahkan mungkin belum cukup untuk menutup biaya operasional blog selama satu tahun.
Di sinilah saya melihat sebuah persoalan yang cukup serius.
Kita tidak hanya berhadapan dengan AI yang bisa membuat tulisan, tetapi juga dengan perubahan cara orang menemukan informasi di internet.
Mungkin bukan blog yang mati, tetapi cara kita membuat blog yang harus berubah
Saya tidak yakin bahwa masa depan blog sepenuhnya akan berakhir karena AI.
Justru saya berpikir sebaliknya.
Mungkin yang akan semakin sulit bertahan adalah blog yang hanya memproduksi ulang informasi yang sudah tersedia di tempat lain.
Kalau kita hanya membuat artikel dengan cara mengambil informasi yang sudah ada, mengubah susunan kalimatnya, lalu menerbitkannya kembali, AI memang bisa melakukan pekerjaan tersebut jauh lebih cepat.
Tetapi kalau kita menulis berdasarkan pengalaman sendiri, melakukan pengujian sendiri, mendokumentasikan proses, menunjukkan hasil yang benar-benar kita temukan, atau menyampaikan pendapat yang lahir dari pengalaman, maka ada sesuatu yang berbeda.
Dan mungkin inilah alasan saya akhirnya memilih untuk tetap menulis sendiri.
AI tetap saya gunakan.
Tetapi bukan untuk menggantikan saya.
Saya ingin AI membantu saya bekerja lebih cepat, sementara pengalaman dan keputusan tentang apa yang layak ditulis tetap berasal dari saya.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya membuat manusia menjadi lebih produktif, bukan membuat manusia berhenti berpikir.
Karena kalau semua pekerjaan kreatif kita serahkan kepada mesin, mungkin kita memang bisa menghasilkan lebih banyak konten.
Tetapi belum tentu kita menghasilkan sesuatu yang benar-benar berarti.

Posting Komentar